Bir : Minuman Berkelas Pilihan Kita Semua

Sayang, bir masih dipandang seperti minuman keras yang dimakan oleh alis rendah, buku jemari menyeret kepala daging. Dengan individu, saya yakin stereotip ini mempunyai akar dalam prasangka masa lampau serta marketing kekinian. Saat gelombang imigran miskin (contoh Jerman atau Irlandia) tiba ke Amerika Serikat, sebab keperluan, mereka membuat pabrik bir hingga mereka bisa dengan gampang nikmati minuman favorite mereka. Imigran ini umumnya dilihat kasar serta tidak pintar.

Marketing kekinian condong memvisualisasikan bir untuk bodoh tetapi membahagiakan. Pikirkanlah: Kapan akhir kali Anda menyaksikan iklan Bud Light yang memvisualisasikan segelintir matematikawan luar biasa serta bagus yang sama-sama nikmati perusahaan lain, coba mengakhiri kesamaan yang mustahil, serta menyeruput Bud Light? Tidak? Kodok konyol meraung BUD – WEIS – ER? Bingo.

Baca Juga : Beer Labu Terbaik Di Dunia

Kita semua paham stereotipnya jauh dari betul, tetapi bagaimana juga, hati kita hangat waktu kita menyaksikan bir bertindak selaku fasilitator untuk beberapa faktor kehidupan yang makin dalam. Saya jadi pusing pekan kemarin sebab saya mendapati contoh semacam itu dibagian Schlafly News and Moments di website mereka yang pecahkan “stereotip ala-ala rendah” serta beberapa yang lain. Acara itu ialah “Theology at Bottleworks. Saat itu juga, sesudah ambil jalur Teologi, saya tertarik.

Acara Ini Berkesan Simpel

Komunitas ini berjumpa dengan hari Rabu ke-4 tiap bulan serta mengulas beberapa masalah susah di era kita. Bebas serta terbuka untuk semuanya sudut pandang. Mari mengambil minuman, beri pandangan Anda, serta pinjam telinga ke seseorang. 7: 00-9: 00 siang.

Dari website Midrash, acara itu seterusnya diartikan:

Teologi di Bottleworks ialah acara bulanan di mana kita mengulas desas-desus yang berkaitan dengan budaya tempat kita tinggal, termasuk juga tema yang sekitar dari ekonomi serta pemanasan global sampai keelokan serta kejahatan. Tergantung di tema serta waktu dalam satu tahun, kedatangan dapat sekitar di antara 40 – 140 orang.

Berikut dialog khalayak yang sangat bermacam serta semarak di kota. Tema kami ialah “The Death Penalti on Trial.” Kami akan mengulas perubahan hukum serta norma terbaru tentang hukuman mati dan permasalahan fundamental yang berkaitan, termasuk juga hak pribadi, kebutuhan negara serta resiko kepribadian, etis serta sosiologis. Mari mengambil minuman, beri pandanganmu, serta pinjam telinga ke seseorang. Bebas serta terbuka untuk semuanya pandangan serta sudut pandang. Bersatulah dengan kami di hari Rabu, 22 September 2010 dari jam 7-9 malam di Schlafly Bottleworks.

Hmmm … dialog cendekiawan mengenai moralitas hukuman fisik, lex talionis, serta hukuman mati yang difasilitasi oleh bir kerajinan yang baik, yang diadakan dalam tempat pengerjaan bir kerajinan? Alis hampir tidak rata. Disamping itu, acara itu memperlihatkan bagaimana bir bisa memberikan kenyamanan positif untuk subyek yang peka. Coba mengulas pemanasan global antara barisan yang bermacam tiada bir serta saksikan apakah yang berlangsung. Kemarahan meronta-ronta, hati terluka, kemarahan bertambah … Tetapi, saat tiap musuh bicaranya mempunyai ikatan umum dengan bir yang dicintai pada tangan, pertemanan menampung dialog yang makin tenang serta efisien.

Acara itu memperlihatkan jika bir serta agama sangat cocok, serta jika, tidak seperti beberapa simpatisan larangan (serta banyak penganjur neo waktu ini), seluruhnya pria / wanita memiliki iman tidak melekat di lumpur dalam sebentuk visi untuk lakukan penghakiman untuk berjalan melalui bar (atau Schlafly’s Bottleworks).

Saya mengharap suatu hal semacam ini berada di Peluangas City! Kemungkinan Boulevard kita sendiri akan buka ruangan pengecapan mereka?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *